Review Manga "Goodbye, Eri" Karya Tatsuki Fujimoto
Tatsuki Fujimoto, mangaka yang dikenal luas lewat karyanya Chainsaw Man dan Fire Punch, kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam membongkar batas medium manga melalui Goodbye, Eri. Terbit sebagai one-shot sepanjang lebih dari 200 halaman, karya ini memperlihatkan sisi personal dan eksperimental Fujimoto: sebuah perpaduan antara drama keluarga, refleksi tentang duka, hingga eksplorasi narasi sinematik dalam bentuk panel-panel manga.
Goodbye, Eri bermula dari kisah Yuta, seorang remaja yang mendapat permintaan terakhir dari ibunya yang sekarat: merekam kesehariannya hingga saat ia meninggal. Dengan kamera di tangan, Yuta pun mengabadikan momen-momen terakhir itu, dan hasil rekamannya menjadi sebuah film dokumenter yang ia tayangkan di sekolah. Alih-alih mendapat empati, Yuta justru menuai cemoohan karena dianggap “eksploitasi” dan “aneh”.
Di tengah keterpurukan, Yuta bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Eri. Ia menonton film Yuta tanpa menghakimi, bahkan menyemangatinya untuk membuat film baru yang “lebih jujur” namun tetap indah. Dari situlah hubungan keduanya berkembang: sebuah persahabatan yang sarat akan keintiman, pembelajaran, dan juga kenyataan pahit. Namun, sebagaimana khas Fujimoto, plot berbelok dengan cara mengejutkan—antara realita, fiksi, dan fantasi bercampur, hingga pembaca dipaksa mempertanyakan mana yang sungguh terjadi dan mana yang hanyalah ilusi sinematik dari kamera Yuta.
Keistimewaan Goodbye, Eri tidak hanya terletak pada premis, melainkan pada cara penyampaiannya. Fujimoto menggunakan gaya visual layaknya storyboard film: panel-panel panjang yang menyerupai potongan adegan kamera, teknik panning, hingga jump cut. Pembaca serasa tidak sedang membuka manga, melainkan menonton sebuah film indie dengan arahan penuh kesadaran artistik.
Dialog sederhana namun emosional, dikombinasikan dengan pacing yang lambat tapi intens, menciptakan ruang untuk refleksi. Ada saat-saat ketika Fujimoto sengaja membuat pembaca menatap panel kosong—sebuah jeda hening yang memperkuat emosi kehilangan. Campuran antara realitas getir dan fantasi sinematik menjadikan kisah ini bukan sekadar cerita duka, melainkan juga refleksi tentang bagaimana manusia memilih mengingat dan menceritakan ulang hidupnya.
Goodbye, Eri adalah sebuah eksperimen berani dalam dunia manga: bukan hanya cerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana narasi dapat menyembuhkan, mengelabui, atau bahkan membentuk ulang kenyataan. Tatsuki Fujimoto berhasil meramu duka personal dengan teknik bercerita yang sinematis, menghasilkan karya yang menyentuh sekaligus memancing perdebatan.
Jika Chainsaw Man menunjukkan kegilaan dan brutalitas khas Fujimoto, maka Goodbye, Eri memperlihatkan sisi lembut, reflektif, dan filosofisnya. Sebuah one-shot yang tidak hanya layak dibaca, tetapi juga layak direnungkan lama setelah halaman terakhir ditutup.





anjayyy kerennn banget co
BalasHapus